iklan 336x280
iklan link responsive
iklan 336x280
iklan link responsive
Baca Juga
Hari itu saya berangkat ke suatu klinik. sehabis mengambil no antrian, saya juga duduk menunggu giliranku. sekonyong - konyong masuklah seseorang wanita menawan. sayang sekali, ia tidak menggunakan hijab. kebalikannya, berdandan menor. wanita itu juga mengambil no, kemudian duduk tidak jauh dariku.
entah kenapa, terdapat suatu dorongan dalam diriku buat mengantarkan sekadar suatu nasehat kepadanya. kesimpulannya sehabis cukup lama diliputi kebingungan, saya juga menasehatinya dengan selembut bisa jadi.
saya jelaskan kepadanya perintah allah yang telah dilanggarnya. tetapi reaksinya betul - betul tidak kuduga. la membentakku dengan suara keras.
dia marah karna - menurutnya - saya sangat turut campur dengan apa yang dia kenakan.
“aku leluasa melaksanakan dan juga menggunakan apa yang saya ingin! ! ” ucapnya.
kesimpulannya, saya juga berulang ke tempat dudukku. tetapi dorongan dan juga bisikan itu berulang mengusik hatiku: “mengapa saya tidak mengantarkan soal kematian - sang penghancur seluruh kenikmatan - kepadanya? ”
saya juga memberanikan diri berulang mendekatinya. dengan sesungging senyum saya memintanya buat menanggapi satu persoalan aja dariku.
“silahkan, ” ucapnya.
“jika aja dikala ini si malaikat pencabut nyawa mendatangimu, apa yang hendak engkau katakan padanya? ” tanyaku.
dia juga menanggapi - duhai, andai aja dia tidak menjawabnya - dengan penuh cemooh: “aku hendak berkata kepadanya: ‘hush.. hush! ”
jawaban itu serupa petir menyambarku. tetapi beruntunglah no antrianku timbul di layar. dan juga saya juga masuk menemui si dokter dengan hati yang dipadati keterkejutan. gimana bisa jadi seseorang manusia dapat sedemikian sombong dengan mengucapkan perkata serupa itu?
sehabis menempuh seluruh pengecekan, saya juga keluar dari ruang dokter. di luar si, saya diguncang dengan kerumunan penderita dan juga perawat yang silih berganti mengucapkan: ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un‘.
dikala saya mendekat, betapa terkejutnya saya. apa yang kulihat? yang kulihat merupakan wanita itu. dia terkulai dan juga tergeletak di sana dalam kondisi tidak bernyawa lagi.
warnanya hari itu merupakan hari terakhirnya. dan juga seluruh bisikan - bisikan yang penuhi hatiku tadi tidak lain merupakan buat memberinya peluang. yah, allah masih memberinya peluang buat - setidaknya - meniatkan taubatnya.
tetapi sayang sekali, dia tidak memakai peluang terakhir itu. malaikat maut tiba, dan juga dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata juga padanya.
cerita ini merupakan hadiah buat mereka yang tertipu dengan angan - angan dan juga obsesi hidup lebih lama di dunia!
( sumber: kisahislam. net )
entah kenapa, terdapat suatu dorongan dalam diriku buat mengantarkan sekadar suatu nasehat kepadanya. kesimpulannya sehabis cukup lama diliputi kebingungan, saya juga menasehatinya dengan selembut bisa jadi.
saya jelaskan kepadanya perintah allah yang telah dilanggarnya. tetapi reaksinya betul - betul tidak kuduga. la membentakku dengan suara keras.
dia marah karna - menurutnya - saya sangat turut campur dengan apa yang dia kenakan.
“aku leluasa melaksanakan dan juga menggunakan apa yang saya ingin! ! ” ucapnya.
kesimpulannya, saya juga berulang ke tempat dudukku. tetapi dorongan dan juga bisikan itu berulang mengusik hatiku: “mengapa saya tidak mengantarkan soal kematian - sang penghancur seluruh kenikmatan - kepadanya? ”
saya juga memberanikan diri berulang mendekatinya. dengan sesungging senyum saya memintanya buat menanggapi satu persoalan aja dariku.
“silahkan, ” ucapnya.
“jika aja dikala ini si malaikat pencabut nyawa mendatangimu, apa yang hendak engkau katakan padanya? ” tanyaku.
dia juga menanggapi - duhai, andai aja dia tidak menjawabnya - dengan penuh cemooh: “aku hendak berkata kepadanya: ‘hush.. hush! ”
jawaban itu serupa petir menyambarku. tetapi beruntunglah no antrianku timbul di layar. dan juga saya juga masuk menemui si dokter dengan hati yang dipadati keterkejutan. gimana bisa jadi seseorang manusia dapat sedemikian sombong dengan mengucapkan perkata serupa itu?
sehabis menempuh seluruh pengecekan, saya juga keluar dari ruang dokter. di luar si, saya diguncang dengan kerumunan penderita dan juga perawat yang silih berganti mengucapkan: ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un‘.
dikala saya mendekat, betapa terkejutnya saya. apa yang kulihat? yang kulihat merupakan wanita itu. dia terkulai dan juga tergeletak di sana dalam kondisi tidak bernyawa lagi.
warnanya hari itu merupakan hari terakhirnya. dan juga seluruh bisikan - bisikan yang penuhi hatiku tadi tidak lain merupakan buat memberinya peluang. yah, allah masih memberinya peluang buat - setidaknya - meniatkan taubatnya.
tetapi sayang sekali, dia tidak memakai peluang terakhir itu. malaikat maut tiba, dan juga dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata juga padanya.
cerita ini merupakan hadiah buat mereka yang tertipu dengan angan - angan dan juga obsesi hidup lebih lama di dunia!
( sumber: kisahislam. net )
Kisah Seseorang yang Mengolok-ngolok Malaikat Maut
4/
5
Oleh
horay